Didikan Keras Membuat Anak Lebih Agresif

Bagi beberapa orangtua, mendidik anak dengan cara yang keras mungkin dianggap efektif membuat mereka lebih disiplin dan kuat. Terutama pada anak laki-laki.

Tak jarang, sebuah pukulan pun digunakan sebagai hukuman. Tapi, sebuah penelitian justru mengungkap, mendidik anak dengan keras hingga menjadikan pukulan sebagai hukumannya hanya akan membuat anak menjadi pembangkang.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Youth and Adolescence ini mempelajari 1.900 keluarga yang berpartisipasi dalam Fragile Families and Child Wellbeing Studi. Sebuah program penelitian melibatkan anak-anak yang lahir di kota-kota besar di Amerika antara tahun 1998 dan 2000, seperti dikutip dari viva.co.id (27/3/14)

Setiap keluarga dinilai mulai dari kelahiran anak, saat anak berusia satu, tiga, lima dan sembilan tahun. Para orangtua juga ditanya mengenai cara mendidik anak serta perilaku anak-anak mereka. Apakah bertindak agresif, sering melanggar aturan atau bertindak antagonis. 

Hasilnya, 28 persen orangtua mengaku telah menghukum anak dengan cara memukul saat anak berusia satu tahun. 57 persen mengaku mulai memukul anak saat usianya 3 tahun. 53 persen memukul anak saat usianya 5 tahun dan 49 persen mengaku memukul anak-anaknya saat usia 9 tahun.

Tapi, hukuman yang diberikan itu tidak lantas membuat anak-anak mereka menjadi penurut. Sebab, si anak justru memiliki lebih banyak masalah perilaku saat dewasa, yang akibatnya lebih banyak pukulan yang didapat.

"Saat orangtua lebih memaksa, anak akan menjadi lebih agresif. Dan akhirnya mereka terjebak dalam siklus itu," ujar penulis penelitian, Michael MacKenzie, yang juga seorang profesor di Columbia University School of Social dan bekerja di New York.

Meski peneliti mengatakan kapan pun waktu dimulainya pukulan memiliki dampak yang sama, mereka menduga bahwa memukul anak sejak usia balita menjadi pemicu terbesar terjadinya siklus tersebut. Karena itu, jika merasa kesulitan mendidik anak, ada baiknya jika saat anak masih di usia balita, orangtua lebih banyak melakukan konseling untuk mendapatkan saran mengenai strategi mengelola perilaku anak mereka tanpa harus memukul.